Meskipun Menakutkan, Mengapa Film Horor tetap ditonton?

Mengapa ya orang suka banget nonton film horor?
Mengapa ya orang suka banget nonton film horor?

SainsMe – Apakah kalian termasuk penyuka film horor? Ada sebagian orang atau bahkan banyak orang yang menyukai tayangan horor, mulai dari film horor sampai reality show horor. Mengapa orang-orang suka menonton sesuatu yang menakutkan?

Seorang profesor psikologi dari Universitas Utrecht, Belanda, Jeffrey Goldstein, yang juga merupakan editor buku Why We Watch mengatakan bahwa orang menonton film horor karena memang ingin ditakut-takuti. Jika tidak, mereka tidak akan melakukannya dua kali. Pendapat lain dari David Rudd, dekan College of Social and Behavioral Science, mengatakan bahwa orang menyukai ketakutan dan berusaha mencari ketakutan lewat film horor karena mereka tahu ketakutan yang mereka rasakan itu palsu.

Tahukah kamu, saat kita menonton film horor, otak kita mengeluarkan neurotransmitter bernama dopamin, glutamat, dan serotonin. Senyawa-senyawa ini menimbulkan perasaan nyaman dan menenangkan pada manusia seperti halnya jika kita memakan cokelat atau pisang. Selain itu, film horor juga memacu produksi adrenalin yang membuat kita selalu siaga. Efek ini akan dirasakan setelah penonton keluar dari bioskop. Kemungkinan efek ini yang membuat orang-orang tak pernah jera menonton film horor.

Para peneliti di University of Augsburg di Jerman dan di University of Wisconsin-Madison juga meneliti apa yang membuat beberapa orang begitu menikmati film-film horor. Mereka melakukan penelitian pada 482 orang berusia 18 – 82 tahun. Peserta diminta untuk melihat cuplikan film horor dengan berbagai tingkat kekerasan. Para peserta diminta menilai seberapa besar keinginan mereka menonton film dalam cuplikan dari awal sampai akhir. Hasilnya, ternyata kesenangan hanya merupakan sebagian tujuan orang menonton film horor. Orang cenderung lebih memilih film horor yang dirasa bermanfaat baginya dalam menghadapi situasi dan kekerasan di dunia nyata. Anne Bartsch, peneliti dari University of Augsburg, berpendapat bahwa penggambaran kekerasan yang dianggap bermakna oleh penonton dapat memupuk rasa empati pada korban, kekaguman atas tindakan berani, dan nilai moral ketika menghadapi kekerasan atau refeleksi diri yang berkaitan dengan stimulus kekerasan.

Related Post

Turritopsis nutricula, Ubur-Ubur yang dapat Hidup Abadi Ternyata ada lho, makhluk hidup yang dapat hidup abadi, siapa dia? Jawabann...
Inilah Planet Tercepat di Alam Semesta Setiap planet di alam semesta ini memiliki karakteristik tersendiri, termas...
#Tanya Sains: Mengapa Kita dapat Menguap? Sebuah studi yang dilakukan oleh Andrew Gallup dan timnya dari Binghamton U...
Mengapa Cokelat Putih Tetap disebut Cokelat? Cokelat ini sama sekali tidak berwarna cokelat dan berasa seperti cokelat, ...
Penyebab Warna-Warni Pasir Pantai Tau gak sih, kalau warna pasir pantai itu beraneka ragam. Mungkin yang seri...
Mengapa Perlu Mematikan Ponsel di Pesawat Terbang? Kamu yang sering bepergian di pesawat terbang pasti sering mendengar pering...
Berkenalan dengan Karamelisasi Kamu mengenal teknik karamelisasi sebagai teknik mencoklatkan suatu bahan m...