Obat Tradisional, Dari Jamu sampai Fitofarmaka

[Ilustrasi] yuk, minum jamu!
[Ilustrasi] yuk, minum jamu!
SainsMe – Apa yang terbayang di benak kalian kalau dengar kata jamu? Mbok-mbok yang jualan jamu gendong dan minuman seperti kunir asem, beras kencur, serta brotowali?

Nggak salah sih, tapi sebenarnya pengertian jamu tidak hanya sesempit itu. Secara umum, jamu adalah sebutan untuk obat tradisional dari Indonesia. Nah, obat tradisional ini, oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dibagi lagi menjadi 3 macam, yaitu Jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan Fitofarmaka.

Jamu adalah obat dari bahan alam yang khasiatnya belum dibuktikan secara ilmiah, dengan kata lain, belum mengalami uji praklinik maupun uji klinik, namun khasiatnya dipercaya oleh orang berdasarkan pengalaman. Apa itu uji praklinik dan klinik? Uji praklinik adalah uji yang dilakukan pada hewan uji untuk mengetahui keamanan dan khasiat obat pada hewan. Sedangkan uji klinik adalah uji pada manusia untuk mengetahui keamanan dan khasiat obat pada manusia. Uji klinik hanya dilakukan jika obat telah lolos uji praklinik. Dalam sediaan jamu, bahan baku yang digunakan pun belum mengalami standarisasi karena masih menggunakan seluruh bagian tanaman.

Obat Herbal Terstandar adalah obat dari bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah distandarisasi. Jadi, OHT ini tingkatannya sudah lebih tinggi dibandingkan jamu. Yang terakhir, Fitofarmaka merupakan obat dari bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik. Bahan baku dan produk jadinya juga telah distandarisasi. Nah, obat yang sudah tergolong fitofarmaka inilah yang boleh digunakan dalam praktek kedokteran dan pelayanan kesehatan formal. Sayangnya, di Indonesia obat herbal yang tergolong fitofarmaka ini masih sangat sedikit jumlahnya. Salah satu alasannya karena biaya yang dibutuhkan untuk uji klinik dan pra klinik ini cukup mahal. Sebagian besar obat herbal Indonesia masih berupa jamu meskipun sudah dikemas dengan kemasan yang modern seperti kapsul atau puyer.

Bagaimana cara membedakan ketiga jenis obat herbal tersebut di pasaran? Caranya gampang, perhatikan logo pada kemasan obat herbal yang kan kita beli. Masing-masing jenis obat herbal ini memiliki logo yang berbeda. Ini dia logonya.

logo jamu

Jadi, beli jamu nggak harus di penjual jamu gendong lagi kan?

Related Post

Cerita dibalik Tahi Lalat Hampir setiap orang punya tahi lalat di tubuhnya, ada yang hanya memiliki s...
Cara Hidung Mencium Bau Kita dianugerahi hidung untuk dapat mencium berbagai aroma. Tetapi sebenarn...
Apa Sebabnya Seseorang Mual dan Muntah? Semua orang pernah muntah, dari bayi hingga orang tua. Tapi tak banyak yang...
#Tanya Sains: Mengapa Kita dapat Menguap? Sebuah studi yang dilakukan oleh Andrew Gallup dan timnya dari Binghamton U...
Misteri Tidur Sambil Berjalan Ada sebagian orang yang bisa tidur sambil berjalan. Mungkin kamu juga perna...
Mengenal dan Mengatasi Masuk Angin Siapa yang tidak kenal dengan penyakit masuk angin? Rasanya penyakit "asli ...
#TanyaSains: Mengapa Gatal tidak Boleh Digaruk, ya? Dear SainsMe, Aku mau tanya nih.. Kenapa sih kalau kulit gatal, Ibu selalu ...